Jumat, 17 Oktober 2008

TAUFIQ ISMAIL: MEMBACA ISYARAT, MENYAPA KATA HATI

Maman S. Mahayana

Sastra adalah catatan sebuah kesaksian atas satu atau serangkaian peristiwa yang terjadi pada saat dan zaman tertentu. Sebagai sebuah kesaksian, sastra boleh jadi sekadar mencatat segala peristiwa itu tanpa pretensi. Atau, mungkin juga ia mencoba melakukan pemaknaan atas hakikat di balik peristiwa itu. Itulah sebabnya, dari karya sastra, kita (: pembaca) kerap menemukan berbagai hal yang baik atau yang buruk; yang tersirat atau tersurat. Jadi, sebagai catatan sebuah kesaksian, sastra menghasilkan rekaman situasi sosial pada zamannya. Ia menampilkan semacam potret sosial. Dari sana, terungkap situasi sosial, di dalamnya sekaligus tersembunyi semangat zaman, bahkan juga luka sejarah yang terjadi pada masa tertentu.

Mengingat catatan dan rekaman itu kadangkala dihasilkan dari sebuah tafsir dan evaluasi tentang satu atau berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan dan sastrawan mencoba memberi makna terhadapnya, maka tidak sedikit pula karya sastra yang mengisyaratkan tanda-tanda, petunjuk atau prakiraan. Ia mencatat dan merekam situasi sosial pada zaman tertentu dan kemudian mencoba pula memaknainya bagi kehidupan ini, sekalian mengisyaratkan berbagai kemungkinan akibat-akibatnya sebagai buah dari peristiwa itu.

Jika kondisi sosial pada zamannya dimaknai sebagai sebuah isyarat, lalu apa yang bakal terjadi di masa hadapan atas masyarakat yang bersangkutan: kebahagiaan atau kehancuran, kegembiraan atau kepedihan, serangkaian doa harapan atau teror atau caci-maki? Dalam hal ini, sastra sering juga diperlakukan sebagai ramalan tentang perkembangan zaman dan tanda-tanda yang akan dihadapi di masa depan. Apakah ramalannya itu benar-benar terjadi atau tidak, tidaklah penting. Ia hanya bertugas memberi tanda-tanda, mengisyaratkan tentang sebuah peristiwa yang (mungkin) akan terjadi dan melanda masyarakatnya kelak.

Antologi puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail juga memperlihatkan, bahwa penyair tidak duduk berpangku tangan dan diam memandangi segala yang terjadi dan menimpa masyarakatnya. Ia tidak sekadar mengejawantahkan tanggung jawab sosialnya, tetapi juga berusaha memberi penyadaran pada masyarakat pembaca, sekaligus mencoba menyodorkan pencerahan bagaimana peristiwa yang melanda masyarakatnya harus disikapi, dijawab, dimaknai, dan jika mungkin dicari solusinya. Penyair coba memaknainya bagi kehidupan manusia dan coba pula menawarkannya kepada pembaca. Tentu saja tawarannya tidak berupa slogan, pamflet, propaganda atau dakwah. Yang dilakukan penyair adalah sebuah refleksi, renungan, introspeksi atau bahkan retrospeksi, dan sentuhan yang bersumber dari kata hati menuju kata hati yang lain.

Berbagai peristiwa yang dilihat dan didengarnya itu, ia olah ke dalam isi kepalanya, kemudian ia bicarakan dengan kalbunya, dan akhirnya ia ejawantahkan lewat bahasa, lewat kata-kata. Wujudlah sebuah karya kreatif: cipta karya yang dibangun melalui proses pemikiran dan sentuhan kalbu. Dengan kata lain, penyair coba menyentuh pikiran dan hati nurani pembacanya melalui pengungkapan problem kemanusiaan. Ia berpikir dan berbicara dari hati nurani untuk menyapa hati nurani pembacanya. Itulah yang dapat kita tangkap dari antologi puisi Taufiq Ismail.
***

“Puisi Taufiq Ismail adalah puisi hati nurani,” itulah salah satu penilaian Guru besar sejarah, Kuntowijoyo dalam Kata Pengantar buku Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Tentu saja kita boleh bersetuju, boleh juga tidak. Tetapi cobalah cermati secara seksama keseratus puisi yang terhimpun dalam buku itu. Dalam konteks ini, sangat boleh jadi setiap hati nurani manusia yang menentang kesewenang-wenangan, kehancuran moral, dan kebrengsekan perilaku, seperti disadarkan, diberi pencerahan manakala hati nuraninya berdialog dengan puisi-puisi Taufiq Ismail. Ia begitu piawai menangkap kepedihan dan kegelisahan yang meruap dalam kehidupan sosial.

Taufiq Ismail seperti tahu persis, bagaimana ia harus bertindak menyalurkan aspirasi dan kegalauan masyarakatnya. Di sinilah, tindakan konkret yang dilakukannya bukanlah unjuk rasa, protes keras, atau menyampaikan mosi tidak percaya kepada sasaran tembaknya; DPR, Pemerintah, atau oknum penguasa, tetapi cukuplah ia berbuat melalui puisi. Itulah kesadaran profesional seorang penyair. Itulah wujud tanggung jawab sosialnya. Maka apa yang kemudian terjadi dalam ekspresi puitiknya?

Taufiq Ismail melalui puisi mengungkapkan fakta sosial. Melalui puisi pula ia menyampaikan fakta sosial itu untuk konsumsi kejernihan pikiran dan kesucian kata hati. Akibatnya, puisi-puisi Taufiq Ismail cenderung tidak mengarahkan pembacanya berkerut kening, berpikir keras mencari makna filsosofis, tetapi cukup sekadar menyampaikan informasi sebagai bentuk tegur—sapa antarhati nurani dan mengingatkan tanggung jawab manusia sebagai bagian dari sebuah komunitas sosial dalam kehidupan sebuah negara atau dalam kehidupan di dunia ini.

Demikianlah, hampir semua puisi Taufiq Ismail, tidak menampakkan kebencian pada orang per orang, tidak pula memendam dendam dan kemarahan pada pribadi-pribadi. Ia tak membidik individu sebagai pribadi, orang per orang, melainkan lebih menitikberatkan pada masalah manusia dan kemanusiaan. Jadi, meski puisi-puisinya mengangkat peristiwa-peristiwa yang khas, sesungguhnya ia berbicara tentang masalah manusia dan kemanusiaan.

Bukankah sastra yang baik selalu menggambarkan problem personal, sekaligus juga universal? Bukankah karya-karya sastra yang tak lekang ditelan zaman dan tak terkubur oleh waktu, selalu memperlihatkan kekhasan dan sekaligus keuniversalannya? Lihatlah karya-karya klasik Sophokles (Yunani) tentang kisah Oidipus, William Shakespeare (Inggris) tentang Hamlet atau Romeo—Juliet, atau karya Valmiki dengan Bhagawad Gita-nya (India). Bukankah karya-karya klasik itu masih terus dibaca orang lantaran siapa pun merasa bahwa mahakarya itu berbicara tentang manusia dan kemanusiaan; berbicara tentang diri kita tanpa sekat sukubangsa, ras, agama, atau ideologi? Perhatikan puisi berikut ini:

12 MEI, 1998

mengenang Elang Mulya, Hery Hertanto,
Hendriawan Lesmana dan Hafidbin Royan

Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata
tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
dan simaklah itu sedu-sedan,

Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi
karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-
sahabtmu beribu menderu-deru

Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu,

Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di
Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani
mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan
darah arteri sendiri,

Merah Putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang
matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama
bersembunyi

Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama, dan
kalian pahlwan bersih dari dendam, karena jalan masih
jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.

Taufiq Ismail memotret peristiwa tragis yang menimpa keempat mahasiswa Trisakti seperti ia bercerita pada dirinya sendiri. Seperti orang sedang bergumam dan menangisi kisah tragis tentang semangat kaum muda. Mungkin kita merasa bahwa keempat mahasiswa itu tak ada hubungannya dengan kita. Boleh jadi, mahasiswa sekarang pun merasakan hal yang sama, seolah-olah peristiwa itu tidak ada lagi kaitannya dengan keadaan mahasiswa zaman ini. Di masa mendatang, mungkin juga pembaca puisi itu tak merasa punya kepentingan apa pun dengan keempat mahasiswa itu, dan peristiwa tragis itu pun terbenam begitu saja ditelan waktu. Ia sekadar menjadi catatan sejarah yang beku.

Tetapi, cobalah cermati setiap larik yang dibangun Taufiq Ismail dalam puisi itu. Dengan empati, penyair bicara tentang empat mahasiswa yang menjadi syuhada, gugur dalam memperjuangkan idealisme mereka, menuntut perubahan. Mereka yang harusnya jadi sarjana, rela tak kuliah dan menyuarakan keinginan reformasi bersama gelombang mahasiswa lainnya. Dalam gelombang itulah, peluru menerjang mereka. Malaikat mencatatnya dengan indeks prestasi tertinggi tidak hanya di almamaternya, tetapi juga di negeri ini. Mereka menjadi martir terdepan. Indonesia dirundung duka, tetapi perjuangan harus terus dilanjutkan sampai kapan pun. Dan semangat kaum muda akan terus bergelombang membawa perubahan!

Empati yang dibangun penyair sungguh mengganggu hati nurani kita. Cukup beranikah kita menyerahkan nyawa kita untuk sebuah perjuangan yang belum jelas hasilnya? Idealisme telah mengalahkan segalanya. Pertanyaannya kini: Bagaimana jika itu terjadi pada diri kita, kawan terdekat, saudara, atau bahkan anak kita sendiri? Catatan yang dilakukan penyair bukanlah sebuah reportase yang nilai keaktualannya akan jadi basi ketika lusa kita baca lagi liputan reportasenya.

Taufiq Ismail mencatat dengan empati. Ia berbicara tentang hati nurani. Maka peristiwa tahun 1998 itu, yang tak jelas lagi duduk perkaranya itu, seolah-olah tetap menjadi bagian dari diri kita. Tetapi idealisme anak-anak muda itu adalah bagian dari nilai manusia dan kemanusiaan. Maka sentuhan atau penyadaran Taufiq Ismail tentang itu niscaya akan berlalu sepanjang zaman di negara dan bangsa yang mengharapkan perubahan—perbaikan.

Penyair seperti mengangkat peristiwa itu seolah-olah sebagai peristiwa yang baru saja terjadi kemarin. Kita seperti diajak untuk merasakan sendiri kepedihannya. Lalu masih sanggupkah kita berpangku tangan dan bertindak sebagai penonton belaka? Taufiq Ismail tidak mencatat peristiwa itu sebagai catatan sejarah yang segera akan beku lantaran itu terjadi sebagai peristiwa masa lalu.

Betul, itu peristiwa masa lalu. Tetapi penyair mencatat sisi universalitasnya, sisi yang tetap akan aktual sampai kapan pun. Dan itu hanya dapat dilakukan karena penyair mencatat peristiwa itu bukan semata-mata sebagai peristiwa sejarah an sich, melainkan sebuah catatan tentang peristiwa kemanusiaan. Bukankah peristiwa itu mengingatkan kita pada Tragedi Tiananmen, ketika ribuan mahasiswa Cina dilindas kekejaman kekuasaan Partai Komunis Cina? Bukankah puisi Taufiq Ismail yang berbicara tentang keempat mahasiswa Trisaksi yang menjadi korban itu menyadarkan kita bahwa langsung atau tidak, kita (: pembaca) diajak untuk membenci dan memusuhi setiap tindakan represif atau setiap penyalahgunaan kekuasaaan.

Dalam hal itulah, peristiwa itu akan tetap aktual karena penyair menyeretnya sebagai peristiwa kemanusiaan yang kapan dan di mana pun, sangat mungkin akan terus terjadi dan berulang lagi. Oleh karena itulah, Taufiq Ismail mengingatkan nurani kita, memberi penyadaran, mengusung pencerahan, tentang sebuah tragedi kemanusiaan ketika kesewenang-wenangan meraja lela, ketika anak-anak muda menghadapi kekuasaan yang represif, ketika moral jatuh berderak-derak. Di situlah puisi (baca: karya sastra) memainkan peran sosialnya.

Dalam hal itu, sastra mencatat dan menangkap potret sosial. Sastra juga mengangkat semangat zaman. Di balik itu, ia mengingatkan nilai-nilai kemanusiaannya tak akan lekang ditelan zaman, tak akan terkubur oleh waktu yang terus berjalan. Perhatikan lagi beberapa cupikan puisi Taufiq Ismail yang berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” berikut ini:

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini

II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebih Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia

Bait-bait berikutnya dari puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” mengungkapkan kehancuran Indonesia secara total: moral, spiritual, material, dan segalanya yang dirumuskan secara tepat sebagai: Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak/Hukum tak tegak, doyong berderak-derak. Perhatikan persamaan bunyi: langit akhlak … berserak-serak/ hukum tak tegak … berderak-derak yang tidak hanya memberi efek puitis, tetapi juga dahsyat. Jadi, di balik pilihan kata (diksi) yang begitu puitis itu, di dalamnya tersimpan sesuatu yang dahsyat: kehancuran akhlak. Lalu, jika akhlak di sebuah negeri telah hancur, idealisme apa lagi yang masih tersimpan, kecuali gumpalan kepedihan?

Pada bagian satu romawi, penyair dengan sangat manis menggambarkan aku lirik ketika masih sangat belia. Dengan kesadarannya sebagai anak muda, ia bangga bahwa meski negerinya baru enam tahun diakui dunia, ia merasa sebagai anak bangsa yang dikagumi dunia. Ia tak rendah diri, tak minder sebagai “anak kampung” yang baru kali pertama menginjakkan kakinya di negeri adikuasa, di hadapan bangsa raksasa. Ia begitu bangga sebagai anak revolusi Indonesia dan membusungkan dada menjadi anak Indonesia sendiri di negeri asing, di hadapan teman-temannya yang bangsa dan negaranya sudah jauh lebih maju. Tetapi kemudian, mengapa kini tiba-tiba ia harus menyembunyikan diri dan merasa malu jadi orang Indonesia?

Sebuah paradoks berhasil dibangun Taufiq Ismail dengan membandingkan masa ketika Indonesia baru merdeka dengan masa tahun 1998, hampir setengah abad kemudian. Sangat beralasan penyair merasa malu di hadapan bangsa-bangsa lain, karena ternyata kehancuran Indonesia sudah menjalar masuk ke dalam berbagai aspek kehidupan: dari selingkuh birokrasi (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang menempati peringkat nomor satu di dunia sampai ke masalah budi pekerti yang dalam kehidupan sehari-hari nyaris hilang. Penyair dengan sangat cerdas dan pas menganalogikannya sebagai berikut: Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam/ kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di/tumpukan jerami selepas menuai padi// Jika demikian, apalagi yang tersisa jika semua sudah tumpas-tandas?

Malu aku jadi orang Indonesia merupakan kristalisasi dari kepedihan dan sekaligus kecintaan si aku lirik pada Indonesia. Ia menjerit dengan kepedihannya mencermati bangsa dan negerinya. Tetapi, ia juga tidak mengingkari dirinya sebagai orang Indonesia. Bandingkanlah pilihan kata (diksi) yang digunakan Taufiq Ismail yang tidak lagi menggunakan kata anak revolusi Indonesia (larik terakhir bait pertama) dan anak Indonesia (larik terakhir bait ketiga), tetapi orang Indonesia yang menunjukkan bahwa si aku lirik kini tidak lagi sebagai anak muda, melainkan warganegara Indonesia yang dihormati tidak hanya di negerinya sendiri, tetapi juga di negeri asing.

Taufiq Ismail juga tidak menggunakan kata manusia Indonesia yang maknanya terkesan lebih netral dan sangat umum. Pilihan kata orang Indonesia menjadi lebih punya efek psikologis dan nasionalis yang mengacu pada sikap pribadi si aku lirik. Masalahnya, tidak semua orang Indonesia yang mempunyai keprihatinan yang sama sebagaimana yang dirasakan si aku lirik itu. Dengan cara demikian, Taufiq Ismail seolah-olah hendak mengembalikan persoalan itu semata-mata sebagai persoalan dirinya sendiri, tetapi sebenarnya harus menjadi persoalan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Jadi, pilihan kata orang Indonesia, sekaligus sebagai bentuk tuntutan dan gugatan kepada orang per orang, pribadi-pribadi untuk menunjukkan tanggung jawabnya sebagai warganegara sebuah bangsa.

Dalam konteks keseluruhan pesan yang diangkat Taufiq Ismail dalam puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia,” kita seperti dihadapkan pada dua pribadi penyairnya yang terbelah. Di satu sisi, sebagai pribadi, ia menangis atas kehancuran yang menimpa negerinya, dan di sisi yang lain, sebagai warga negara, ia tidak dapat berpangku tangan. Ia masih menyimpan nasionalismenya meskipun dengan sangat berat menyebut diri sebagai orang Indonesia. Itu juga ditandai dengan kata aku yang berada di dalam tanda kurung (Aku) sebagaimana tersurat dalam judul puisi itu.

Tampak di sana bahwa kecintaan Taufiq Ismail pada Indonesia, harus ia sampaikan dengan kepedihan yang dahsyat. “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” boleh dikatakan merupakan representasi seorang nasionalis yang tidak membuta-tuli. Seorang nasionalis yang harus berani menyampaikan kritikannya demi masa depan negerinya sendiri. Dalam hal ini, pemeo right or wrong is my country, tidak berlaku pada sosok Taufiq Ismail, sebab baginya negerinya harus benar, harus baik: right and right is my country. Maka, puisi itu sesungguhnya merupakan bentuk kecintaan Taufiq Ismail kepada negerinya, bentuk tanggung jawabnya sebagai warganegara.
***

Secara keseluruhan, ke-100 puisi yang terhimpun dalam buku Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia lebih merupakan refleksi penyairnya ketika bangsa ini dilanda kehancuran total. Kita dihadapkan pada serangkaian kritik yang begitu pedas, tetapi benar adanya. Penyair seperti masuk ke pelosok birokrasi, dunia pendidikan, rumah sakit yang mencekik, pengangguran, pegawai negeri yang korup, pemilihan umum, dan sejuta masalah lainnya yang pernah menjadi tontonan kita sehari-hari, tetapi kita tak punya keberanian untuk berbuat.

Inilah antologi puisi yang menguak begitu banyak kebrengsekan terjadi di negeri ini. Taufiq Ismail mencatat semua itu. Dan kita, pembaca, seperti benar-benar diwakili oleh kepedihan dan kecintaan penyairnya kepada Indonesia. Ia seketika menjadi bagian dari kegelisahan kita. Maka, ketika ia bersuara lantang menguak segala kebrengsekan itu, kita bagai memperoleh saluran. Puisi-puisi Taufiq Ismail tiba-tiba menjelma menjadi suara dan aspirasi kita, mewakili kata hati dan nurani kita!

Ketika kepercayaan kita kepada pemerintah, aparat keamanan, birokrasi, wakil rakyat, pemimpin, pemuka agama, tokoh masyarakat, dokter dan entah apa lagi, sudah habis tuntas, masih adakah idealisme yang tersisa?

Puisi (sastra) seperti memberi alternatif, membuka ruang ekspresi dan menyuguhkan suara hati. Puisi menangisinya, mencatatnya/dengan huruf-huruf sedih, sesak nafas, geram dan naik darah/ Puisi menepuk bahu dan mencoba mengingatkan// Maka, ketika hingar-bingar politik menghancurkan harapan kita, ketika kebrutalan terjadi di mana-mana, ketika etika dan moral berserakan di tempat-tempat sampah, dan nafsu serakah, mengumbar syahwat, dan pemberhalaan kekuasaan merajalela, puisi-puisi Taufiq Ismail ini seperti menepuk bahu dan mencoba mengingatkan, menyapa hati nurani kita dan memberi penyadaran, bagaimana kita menyikapi Indonesia. Taufiq Ismail penyair tegas berkata: kembalikan/Indonesia/padaku// Sebuah isyarat, sinyal, dan tanda-tanda yang jauh sebelum reformasi terjadi, pernah dilantunkannya di Paris tahun tujuh satu.

Akhirnya harus saya akui: Puisi-puisi Taufiq Ismail tidaklah sekadar mencatat. Ia menangis, mengutuk, curiga dan cemburu, sedih, sesak nafas, geram dan naik darah, tetapi juga mengingatkan dan memberi tanda-tanda, menawarkan pencerahan. Puisi-puisi itu menawarkan dialog pada diri kita, dan bertanya: bagaimanakah sensitivitas dan suara hati nurani kita? Semuanya kemudian lebur menyatu, mengkristal, membentuk kata dalam larik-larik, merangkaikannya dalam bait-bait, menjelma puisi: Itulah representasi kecintaan seorang Taufiq Ismail pada Indonesia.

-----------------------


 Tahun 1956 –enam tahun terhormat diakui dunia—yang dimaksud Taufiq Ismail adalah masa selepas ditandatangani hasil perundingan Konferensi Meja Bundar yang memaksa Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, akhir Desember 1949. Awal memasuki tahun 1950 adalah masa pemerintah Indonesia menjalankan kekuasaannya tanpa diganggu lagi oleh rongrongan pihak Belanda. Jadi, walau Indonesia menyatakan kemerdekaannya 17 Agustus 1945, Belanda dan beberapa negara lain memberi pengakuan resminya setelah Konferensi Meja Bundar.

Tidak ada komentar: